Finding Ghost: Menyisir Mitos 'Rumah Kuntilanak'

Finding Ghost: Menyisir Mitos 'Rumah Kuntilanak'


Tidak ada warga yang tahu, alasan sang pemilik meninggalkanrumahnya. Tanpa terasa tujuh tahun sudah rumah yang terletak dalam gang di kawasan Cipinang Jaya, Jakarta Timur. Suasana rumah pun berangsur mencekam lantaran banyak sisi bagian rumah yang tak terawat.

Lambat laun ada warga yang mengaku melihat adanya penampakan makhluk gaib di rumah tanpa penghuni .Beberapa warga sering melihat sosok kuntilanak yang menampakkan diri. Tidak hanya itu, makhluk gaib bertubuh besar konon juga menjadi penghuni lain di rumah angker yang berada di sebuah gang kecil itu.


Namun, benarkah mitos yang dikatakan warga? Kali ini Naomi dan Tim Mitos Urban akan mencoba menelusuri rumah angker itu. Apa yang akan terjadi saat Naomi dan Tim Mitos Urban 'Finding Ghost' di tempat ini? Saksikan petualangannya secara live streaming dari lokasi

Afrika Akan Jadi Benua Terbersih?

Afrika Akan Jadi Benua Terbersih?


Inisiatif Energi Terbarukan Afrika (African Renewable Energy Initiative) atau Arei berencana mengembangkan pembangkit energi terbarukan berkapasitas setidaknya 10 gigawatt hingga tahun 2020 dan setidaknya 300 gigawatt di tahun 2030. Dengan adanya hal itu, potensi menjadikan benua tersebut sebagai yang terbersih di dunia terbuka lebar.

Inisiatif skala raksasa yang mendapat dukungan dari semua kepala negara di Afrika itu akan mendorong benua tersebut untuk meningkatkan energi terbarukannya dalam kurun waktu 15 tahun ke depan.

Badan Energi Internasional (IEA) yang menyebut Afrika adalah “pusat dari tantangan global untuk mengatasi kekurangan energi” memperkirakan konsumsi energi per kapita di Afrika pada 2012 cuma 600 kWh. Bandingkan dengan konsumsi rata-rata per kapita dunia yang berada di kisaran 3.064 kWh.


Rencana untuk mempercepat pemanfaatan energi surya, air, angin, dan panas bumi dapat menjadikan Afrika melesat meninggalkan benua lainnya melalui pembangunan ribuan “pembangkit listrik virtual” skala kecil. Pembangkit skala kecil ini mendistribusikan listrik melalui jaringan listrik mini dan tak lagi memerlukan saluran transmisi listrik, yang bisa menyebabkan rugi daya hingga seperempatnya selama proses transmisi.

Inisiatif yang ditaksir akan bernilai setidaknya 500 miliar dolar selama kurun waktu 20 tahun, diberi label “dari Afrika, untuk Afrika,” dan dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan Afrika terhadap batubara saat ini. Selain mengurangi emisi, pembangunan ini akan menolong sedikitnya 600 juta orang untuk beralih dari kebiasaan memasak dengan diesel, minyak tanah atau kayu bakar, dan mengurangi pencemaran udara.

Energi surya diharapkan sebagai pemain utama. “Kami siap untuk terlibat dalam pembangkitan energi surya dan angin besar-besaran untuk mencapai ketersediaan listrik sampai 100% bagi warga kami,” kata Judi Wakhungu, sekretaris kabinet lingkungan Kenya.

Berbicara di peluncuran inisiatif tersebut dalam pembicaraan COP 21 di Paris, presiden Bank Pembangunan Afrika (AfDB), Akinwumi Adesina mengatakan benua tersebut saat ini kehilangan 4% dari PDB-nya akibat kekurangan energi ramah lingkungan.

“Afrika adalah benua yang paling menderita akibat kenaikan suhu udara, dan kekeringan menjadi makin sering dengan intensitas yang kian tinggi. Afrika perlu dana lebih banyak untuk beradaptasi," ucap Adesina seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (12/12/2015).

Benua ini telah terkena efek jangka pendek perubahan iklim. Tapi kami harus memastikan kalau itu bukan diakibatkan karena kekurangan pendanaan. AfDB akan meningkatan pendanaan hingga 3 kali lipat menjadi 5 miliar dolar per tahun pada tahun 2020,” ujarnya.

Afrika sub-Sahara adalah satu-satunya wilayah di dunia yang jumlah penduduk tanpa akses energi listriknya diperkirakan bakal meningkat. Pada 2030, kontribusi Afrika terhadap jumlah populasi dunia tanpa akses terhadap energi listrik akan meningkat hingga dua pertiganya, meningkat dibandingkan saat ini yang cuma setengahnya.

Rencana terperinci masing-masing negara baru akan dikerjakan dalam lima tahun ke depan, namun AfDB dan kelompok finansial lainnya, termasuk Bank Dunia, telah menjanjikan 5 miliar dolar sebagai permulaan.

Kabar tentang inisiatif ini muncul saat koalisi 12 negara, termasuk di antaranya Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, Kenya, Liberia dan Malawi membuat target untuk menanam kembali 100 juta hektar hutan di seluruh benua tersebut hingga 15 tahun ke depan.

Ini akan melanjutkan kesuksesan penanaman jutaan pohon dan semak belukar di Tigray, Ethiopia dan di tempat lainnya dimana kekeringan dan penebangan hutan telah menghancurkan dan menggerus lanskap. Komunitas pertanian telah merasakan peningkatan kualitas tanah, suplai air dan ketersediaan pangan di area-area tempat penanaman kembali pohon dan semak belukar tersebut.

Perjalanan Hadiah untuk Kucing Kesayangan

Perjalanan Hadiah untuk Kucing Kesayangan


Demi keamanan, dinas pos di negara asing lazimnya menerapkan kaidah KYC atau know your customer, sehingga dilarang menyampaikan paket pos kalau identitas penerimanya tidak jelas. Jika terjadi, maka benda kiriman akan sulit disampaikan.

Hal itu terjadi pada Brittany Maher-Kirk (27) di Kentish Town di Utara London yang mendapat kiriman kalender dari ibunya, Sue. Gara-gara sang bunda menuliskan 'Ted'--  kucing milik putrinya -- sebagai penerima

Dikutip dari BBC, Jumat (10/12/2015), dinas pos Inggris, Royal Mail melalui telepon mengatakan kepada sang pemilik kucing bahwa mereka tidak boleh menyerahkan paket jika tidak ada identitas penerima yang jelas.

"Para petugas pos cukup ramah dan mereka bilang ‘Kami sebenarnya tidak sembarang memberikannya kepada orang," kata Brittany menceritakan.


Awalnya para petugas pos mengusulkan agar Ted dibawa ketika mengklaim paket tersebut, tapi sang pemilik menjelaskan bahwa binatang kesayangannya itu menderita HIV kucing dan tidak diperbolehkan keluar rumah.

Akhirnya kalender itu bisa diterima setelah si empunya memberikan penjelasan. Ted si kucing pun terlihat gembira menerima hadiah tersebut.

Juru bicara Royal Mail menuturkan, mereka telah mengirimkan banyak barang untuk binatang rumahan maupun bisnis di seluruh Inggris. Namun keseluruhannya sesuai dengan aturan yang ditetapkan -- menggunakan identitas jelas.


Agar kasus serupa tak terjadi, pihak pos pun meminta agar kiriman untuk binatang peliharaan mencantumkan nama pemilik atau penerima (manusia).

Kisah 'Cinta' Wanita dan Berang-berang

Kisah 'Cinta' Wanita dan Berang-berang


Demi rasa 'cinta' terhadap binatang khas Kanada, seorang wanita rela menempuh perjalanan 400 km ke tempat pengobatan.

Wanita baik hati tersebut, Mary Herbert awalnya tak punya rencana berkendara dari Ottawa ke Rosseau, Ontario. Mengetahui hewan itu butuh bantuan, ia lalu sukarela bersedia mengantarkan si berang-berang mencari tempat perawatan.

"Aku hanya merasa bisa menolong mereka," ungkap Herbert dikutip Metro News, Jumat (10/12/2015).

"Aku menemui suamiku dan mengatakan 'aku bisa melakukannya karena besok tak ada keperluan. Aku cinta binatang. Sangat menyenangkan mampu menolong hewan liar, itu kesempatan yang tak semua orang bisa mendapatkannya'," imbuhnya.

Herbert belum pernah menjadi volunteer di Rideau Valley Wildlife Sanctuary sebelumnya, namun ia mem-follow akun Facebook milik penangkaran, itulah bagaimana ia menemukan iklan mencari 'taksi berang-berang'.


Iklan permintaan mengantarkan si berang-berang disebarkan melalui media sosial, menghadirkan tagar #beavertaxi, dan menarik perhatian Herbert.

"Menyelamatkan nyawa seekor berang-berang adalah hal menakjubkan. Ada kolam berang-berang di tempat tinggalku, dan itu hanya sebagian dari kehidupan liar yang aku saksikan dan sukai. Hewan yang satu ini sepertinya yatim piatu dan perlu pertolongan," tutur Herbert.

Herbert membawa berang-berang dengan menggunakan peti kayu yang ditutupi selimut, diletakkan di kursi belakang mobil Herbert.

"Ia tak mengeluarkan bunyi apa-apa selama perjalanan," tutur Herbert.


Si hewan pengerat yang belum memiliki nama itu ditemukan pada Jumat 4 Desember di sebuah halaman rumah warga Ottawa. Lalu salah seorang di antaranya menghubungi tempat penangkaran.

"Ia ditemukan jauh dari air," jelas anggota dewan Heather Badenoch. "Ia kekurangan air, lesu, dan kebingungan."

Si berang-berang kemudian segera dihangatkan dan dirawat di penangkaran, namun menurut Badenoch, sikapnya tak kunjung menjadi normal. Sehingga, staf memutuskan untuk segera memindahkannya ke Aspen Valley Wildlife Sanctuary di Muskoka, daerah Utara dari Toronto, sehingga ia bisa diperiksa dokter hewan.

Jika diperlukan, hewan ini juga akan menghabiskan musim dingin di penangkaran Aspen, karena tempat itu memiliki penampungan air dalam ruangan.

"Kondisi si berang-berang membutuhkan penanganan lebih dari yang dimiliki fasilitas saat ini," ungkap Badenoch. "Jika ia sudah cukup stabil untuk dipindahkan, kami akan memasang iklan."

Detik-detik Donald Trump Nyaris Dipatuk Elang

Detik-detik Donald Trump Nyaris Dipatuk Elang


Pada Agustus lalu, pengusaha sekaligus calon kandidat presiden AS, Donald Trump mengadakan sesi pemotretan dengan Majalah TIME. Saat itu ia bersanding bersama elang -- burung ikon Amerika Serikat. Namun, rupanya si unggas tak merasa nyaman.

Tiba-tiba si elang mengarahkan patuknya hendak menyerang Trump, dan terlihat ia berkelit. Seperti biasa, komentar pertama yang keluar dari mulutnya adalah bagaimana dengan penampilannya.


"Bagaimana rambutku?" kata Trump dalam videonya sambil membenarkan rambut pirangnya itu, seperti dilansir dari USA Today, Kamis 10 Desember 2015.

Seorang pawang elang yang berdiri di sampingnya ikut membereskan satu dua helai rambut yang berantakan.

Foto itu diambil saat TIME mencalonkan dirinya sebagai 'Person of the Year' versi majalah itu.

Ide foto Trump bersama burung yang nyaris punah itu datang dari fotografer Martin Schoeller. Menurut Schoeller, ia 'bosan' dengan penampilan Trump yang nyaris sama tiap kali dipotret olehnya.

"Semua foto dia sama semua gaya dan ekspresinya," kata Schoeller kepada TIME. Maka ia memilih Trump membawa burung yang bernama Uncle Sam itu.

"Trump itu susah sekali untuk difoto dan berpose. Kalau saya suruh dia, 'dagunya naik sedikit', dia akan bilang tidak. Dia secara harafiah cuma punya 1 angle," lanjut Schoeller yang sering memotret miliuner itu.

"Maka dari itu, saya ingin membuat sesuatu yang berbeda. Saat Trump memulai kampanye dengan slogan 'Make America Great Again,' saya tawarkan ide ini kepada orang yang haus perhatian itu," ujar Schoeller yang telah mengenal bakal calon presiden AS itu dari tahun 2004.

Setelah konsep itu disetujui, elang berusia 27 tahun itu langsung diterbang dari Texas menuju lantai 25 Trump Tower di Manhattan, AS.

"Sangat sulit meminta elang itu berpose. Kami semua di ruangan, kendati ada pawang sekaligus pemilik burung itu, tetap susah mengendalikan Uncle Sam. Trump juga seperti enggan memegang burung itu. Jadi, agak sulit saat memotret mereka berdua," ungkap Schoeller tentang di balik sesi pemotretan itu.

Semenjak TIME memutuskan untuk merilis video ada Kamis 10 Desember, banyak yang menertawakan adegan itu. Salah satu netizen mengatakan, "Bahkan Uncle Sam pun tak setuju, Trump jadi nominasi presiden AS."

Salah satu akun Twitter, @samkalidi berkicau,"Bahkan Elang kebanggaan Amerika benci Donald Trump."

Adapun penghargaan 'Person of the Year' diberikan kepada Kanselir Jerman Angela Merkel. Atas pilihannya itu, Trump 'mencela' TIME.

"Saya bilang ke kalian, Majalah TIME tidak akan memilih saya sebagai tokoh tahun ini. Namun, mereka memilih oarng yang telah menghancurkan Jerman," kicau Trump dalam Twitternya.

Miliuner itu sendiri tidak berkomentar terhadap alasan TIME merilis rekaman di balik pemotretan sampul majalah mereka.

Berikut saksikan detik-detik Trump diserang Elang Botak...

Wanita Ini 'Sogok' Petugas Bea Cukai dengan Berhubungan Intim

Wanita Ini 'Sogok' Petugas Bea Cukai dengan Berhubungan Intim


Seorang wanita berusia 55 tahun didakwa dengan tuduhan menyuap petugas bea cukai setelah ia menawarkan berhubungan badan supaya dibebaskan membawa masuk barang mewah ke AS.

Hong Yang,  janda cerai asal Tiongkok tiba di bandara John F. Kennedy, New York bulan Juli lalu bersama saudara perempuannya dan anak perempuannya yang kuliah di Manhattan.


Dikutip dari New York Daily News, Jumat (11/12/2015), setibanya pesawat Air France dari Paris di AS, petugas bea cukai (Customs and Border Patrol, CBP) AS mendapati sejumlah barang bawaan anak perempuannya yang tidak dilaporkan.

Barang yang tidak dilaporkan itu mencakup buku saku desainer mahal, jam tangan, mantel bulu, dan perhiasan permata yang semuanya ditaksir senilai US$160.000-- atau lebih dari Rp 2,2 miliar.

Menurut catatan pengadilan Brooklyn Federal Court, Yang diduga menuliskan nama akrab dan nomor teleponnya di selembar kertas dan memberikannya kepada sang petugas. Ia kemudian ditengarai menawarkan uang sejumlah $10.000-- sekitar Rp 139 juta-- dan sebuah jam tangan untuk meloloskan putrinya dari pemeriksaan.

Guna mendpaatkan bukti, petugas jujur itu kemudian keluar sesaat untuk dipasangkan alat penyadap dan kembali menghampiri Yang. Tidak mau terjerat hukum, Yang 'menaikkan' tawarannya untuk 'tidur bersama' sang petugas dan mengajaknya jalan-jalan ke Tiongkok.

Menurut pengacara Robert Gottlieb, Yang tidak ditahan langsung dan diperkenankan meninggalkan bandara. Petugas baru menahannya jelang akhir pekan ketika hendak melakukan perjalanan kembali ke Tiongkok.

Sejak Senin lalu, 7 Desember 2015, Yang bebas dengan uang jaminan sebesar US$250.000-- atau sekitar Rp 3,5 miliar-- dan ia tinggal di apartemen puterinya di Manhattan.

Kilah sang pengacara, “Jelas ada salah pengertian di sini, dan malangnya menjadi penahanan yang tidak adil bagi wanita anggun itu."

Mampukah Garuda Raksasa Cegah Jakarta Tenggelam seperti Titanic?

Mampukah Garuda Raksasa Cegah Jakarta Tenggelam seperti Titanic?


Ramalan masa depan Jakarta sama sekali tak gilang-gemilang. Akibat laju penurunan tanah dan kenaikan level permukaan air laut, Ibu Kota terancam terendam air. Sepuluh juta warganya dibayang-bayangi relokasi. 

Nasib Jakarta serupa dengan metropolitan lain di Asia: Shanghai, Hong Kong, Kalkuta, Mumbai, Dhaka, dan Hanoi. Atau jangan-jangan Jakarta bakal lebih parah.

"Akan sangat sulit bagi sektor bisnis dan masyarakat untuk memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi," kata Richard Hewston, analis perubahan iklim dari Verisk Maplecroft, seperti dikutip dari situs WRAL.com. 

Tak ada pilihan lain, kota-kota besar di wilayah pesisir harus bersiap menghadapi risiko kehilangan investasi dan menangani bencana yang terjadi pada rakyatnya. 

Kekhawatiran soal nasib Jakarta juga menjadi sorotan media sains National Geographic. 

Dari Teluk Jakarya, Victor Coenen, ahli geografi fisik asal Belanda, mengamati sekeliling. Matanya menatap saluran air yang tersumbat segala macam kotoran, dari sampah plastik hingga enceng gondok.

"Kota ini tak bisa dibiarkan terus-terusan terendam," kata dia seperti dikutip dari situs National Geographic, Kamis (10/12/2015).

Coenen lantas memaparkan fakta mengkhawatirkan. Permukaan tanah di kota -- yang oleh nenek moyangnya dinamakan Batavia -- terus turun, rata-rata 7,5 cm setiap tahun. Bahkan mencapai 10 inci atau 25,4 cm di sejumlah area, laju yang lebih cepat dari Venisia -- yang tenar sebagai 'kota air'.

Ibaratnya, Jakarta bak 'Titanic' di belantara metropolitan dunia. Menjadi tempat di mana anak-anak pada masa depan harus membelah air payau setinggi pinggang untuk pergi ke sekolah. Hampir setengah dari warganya terpaksa menderita menghadapi banjir 'abadi' yang jauh lebih sering terjadi dari masa kini.

Ini adalah ancaman nyata: dalam 15 tahun, 80 persen wilayah utara Jakarta akan berada di bawah permukaan air laut. Hanya butuh waktu 50 tahun jalanan bisa terendam air setinggi 10 kaki atau 3 meter. Mobil tak bisa melaju -- mungkin -- digantikan sampan!

Agar mimpi buruk tersebut tak sampai terjadi, Jakarta telah memulai proyek terbesar dalam sejarah: pembangunan proyek tanggul raksasa (Giant Sea Wall).

Tanggul berbentuk Garuda tersebut akan membentang sepanjang 40 kilometer, tinggi 80 kaki atau 24,3 meter -- di mana sepertiga bagiannya menjulang di atas permukaan air laut.

Untuk menutupi biayanya yang fantastis, US$ 40 miliar, dibuat 17 pulau buatan, yang bisa dimanfaatkan para pengembang untuk membangun rumah-rumah mewah, pusat perbelanjaan megah, dan perkantoran tipe-A. Bentuknya mirip-mirip Palm Island, gugusan pulau buatan di Dubai.

"Kami sedang mencoba membangun sebuah tanggul sekaligus kota. Ini adalah ide yang baru," kata Coenen yang menjadi konsultan Witteveen+Bos, bagian dari konsorsium Belanda yang menyiapkan master plan proyek besar itu.

Namun, kerja berat itu masih panjang. Tahun lalu, dimulai tahap pertama, yakni peninggian tanggul setinggi 2,5 meter yang akan selesai dalam 24 bulan.

Pertanyaannya apakah 'Garuda' raksasa itu nantinya cukup sakti untuk mencegah Jakarta tenggelam?

Blog Archive

Powered by Blogger.