Kreatif, Buku Cerita Anak-anak ini 'Disulap' Jadi Pohon Sungguhan

Buku ini telah membawa gerakan go green ke tingkat yang lebih tinggi. Walaupun sekarang ini buku cetak mulai digantikan oleh ebook yang lebih ramah lingkungan, perusahaan penerbitan ini masih mencoba untuk memuaskan selera pembaca konservatif sekaligus berpartisipasi dalam upaya pelestarian alam. Dengan menerbitkan buku yang bisa ditanam.


Perusahaan penerbitan Pequeno Editor menerbitkan buku berjudul Mi Papa Estuvo en la Selva atau "Ayahku Di Hutan". Buku ini menceritakan tentang hutan dan bagaimana cara untuk menghargai setiap makhluk hidup.

Buku anak-anak ini dibuat dari kertas bebas asam, tinta ramah lingkungan, dan dijalin dengan tangan tangan. Dilengkapi pula dengan biji jacaranda yang bisa ditanam.

Buku ini merupakan bagian dari proyek Tree Book Tree. Target dari proyek ini adalah anak-anak usia 8-12 tahun.

Tujuannya mengajarkan kepada anak-anak tentang asal-muasal buku sekaligus mengajak mereka berbuat lebih untuk lingkungan yang telah memberikan kehidupan bagi umat manusia.

Setelah membaca cerita, tentunya anak-anak dapat menanam buku ini di tanah. Dan dalam waktu beberapa tahun, buku ini pun akan tumbuh menjadi pohon.

Cara yang cukup unik untuk melestarikan lingkungan, bukan?





Lai, Buah yang Bentuknya Sangat Mirip Durian, Tapi Bau Tak Menyengat, Rasanya Juga Beda

Lai, Buah yang Bentuknya Sangat Mirip Durian, Tapi Bau Tak Menyengat, Rasanya Juga Beda

Ini bukan sembarang buah berduri. Buah ini secara fisik jika dilihat sekilas mirip buah durian. Kulitnya sama-sama berduri tetapi ukuran buah tidak terlalu besar.
"Ini durian lai. Cuma tumbuh di Kalimantan Selatan dan Timur," kata Martina, penjual durian lai di pinggir Jalan Provinsi, Desa Api-Api, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara,Kalimantan Timur, Jumat (8/5/2015).
Rombongan "Jelajah Sepeda Kompas Banjarmasin-Balikpapan" menyempatkan diri untuk menyantap buah ini saat menjelang akhir Etape 5 Tanah Grogot-Waru, Jumat (8/5/2015) kemarin. Para pesepeda langsung menyergap meja dagangan yang penuh dengan buah lai itu.
Martina segera membelah satu persatu buah tersebut untuk disajikan kepada para pesepeda. Para pesepeda yang berhenti mendadak terkejut ketika buah lai telah terbelah.
"Wah daging buahnya beda ya. Unik. Tidak bau lagi. Mau dong coba," seloroh Endi, salah satu peserta "Jelajah Sepeda Kompas".
KompasTravel sempat mencicipi daging durian khas Kalimantan ini. Bau menyengat yang biasa keluar dari durian pada umumnya tidak ditemui pada buah lai ini. Daging buah berwarna jingga agak kemerahan.
satu sisi dapat berisi hingga lima biji buah. Tekstur dan rasanya seperti ubi merah dengan rasa manis yang tidak terlalu pekat. Salah satu pesepeda, Budiman Setiono, mengaku pada awalnya tidak mengetahui jenis buah berduri tersebut.

Ia tidak terlalu suka dengan buah durian. Namun ketika melihat dan mencium aroma durian ini, ia sontak ingin mencicipi. Ia langsung mengambil satu buah durian ini untuk dilahap.
"Sebelumnya saya tidak suka durian. Kalau durian lokal, baunya menusuk. Tidak menyangka ketemu durian pas sepedaan. Kalau yang ini, pas pertama melihat langsung ingin coba. Warnanya unik terus bentuknya kecil jadi lucu, Mantap," katanya.
Martina mengatakan bahwa buah durian lai ini memiliki banyak variasi warna seperti jingga, merah, dan kuning. Berat buah ini mulai dari setengah kilogram hingga tiga kilogram. Ia mengaku buah lai yang dijualnya merupakan hasil kebunnya sendiri.
"Saya punya dua hektar. Sudah hampir 20 tahun jualan durianlai. Masyarakat di sini juga punya kebun buah lai," katanya.
Untuk mencicipi kuliner khas Kalimantan ini, satu buah lai dihargai mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 35.000. Harga tersebut tergantung besar ukuran buah lai tersebut. Jika telah mencoba, jangan khawatir mulut dan tangan akan bau. Durian lai tidak meninggalkan bau yang menyengat seperti durian pada umumnya.


(sumber)

Blog Archive

Powered by Blogger.